Minggu, 19 Agustus 2012

[Media_Nusantara] Pemimpin & Power

 

Siapa pun paham menjadi pemimpin bukan tugas buat sembarang orang. Orang bilang harus ada bakat, keahlian bicara, kemampuan menerjemahkan visi dalam tindakan bagi anak buahnya, dan sebagainya.

Ternyata bukan hanya di budaya Indonesia, di berbagai tempat pun orang cenderung mengagung-agungkan seorang pemimpin.Namun risikonya, ketika terjadi error dalam jalannya suatu negara, yang dituding biang kerok selalu pemimpin. Buat saya, membaca literatur tentang pemimpin selalu menarik. Dari waktu ke waktu, selalu saja ada orang yang berusaha menggambarkan sisi kepemimpinan seseorang.

Dalam kampanye menjelang pemilu, misalnya, kepemimpinan ini menjadi komoditas politik yang begitu seksi. Seorang penulis atau konsultan bisa dibayar miliaran rupiah untuk menunjukkan "sisi-sisi kepemimpinan" seseorang yang ingin muncul sebagai tokoh. Ketika seorang pejabat meninggal, bila dianggap masih "laku" bagi audiens yang masih hidup,pasti lahirlah segala bentuk upaya memunculkan ketokohan si pejabat itu.

Segala kegiatan menjual sisi kepemimpinan ini kerap kita sebut "pencitraan". Ada satu buku menarik tentang seni memimpin, yakni karya Joseph Nye, Jr berjudul The Powers to Lead (2008). Sebagai ilmuwan senior di bidang politik dan hubungan internasional, Joseph Nye menyajikan berbagai personifikasi tentang pemimpin dengan segala karakternya yang luar biasa.Hal ini menunjukkan betapa dahaganya manusia akan sosok "serbabisa" sang pemimpin.

Satu hal kritis yang disajikan Joseph Nye adalah cerita tentang kepemimpinan Winston Churchill,tokoh dari partai Konservatif di Inggris, pernah menjabat sebagai perdana menteri,yang kini dikenang sebagai salah satu tokoh terhebat sepanjang sejarah abad ke-20. Bagi orang yang hidup sekarang, Churchill yang kita kenal adalah Churchill yang hebat. Kehebatan itu didokumentasikan dalam websiteyang khusus didedikasikan untuk Churchill.

Di sana dapat ditemukan sejumlah kutipan pernyataan Churchill yang dianggap heroik. Misalnya,"Saya akan katakan kepada House (DPR),seperti juga saya katakan kepada siapa pun yang bergabung dengan pemerintahan ini,bahwa saya tidak menawarkan hal lain selain darah,kesusahpayahan, air mata, dan keringat.

Kita menghadapi problem tersulit … jika kau tanya apa kebijakan kita, saya katakan untuk melakukan perang dengan segala keberanian, dengan segala kekuatan yang dapat diberikan Tuhan, untuk melawan segala bentuk tirani yang tidak bisa digambarkan kekelaman dan kekejamannya kepada manusia.

" Pidato ini disampaikannya sebagai perdana menteri pada 13 Mei 1940. Joseph Nye mencatat bahwa pada 1936 di kubu Partai Konservatif tempat Churchill bernaung pernah dinyatakan bahwa orang-orang di partainya mungkin senang mendengar pidato Churchill, tetapi bukan berarti mereka mau menjalankan saran dan ideidenya. Nye dan sejumlah sejarawan menyatakan Churchill tidak akan menjadi tokoh besar bila Adolf Hitler dari Jerman tidak melakukan invasi ke Prancis pada Mei 1940.

Baik Churchill maupun Adolf Hitler dipandang sebagai tokoh transformasi dalam Perang Dunia II karena samasama melakukan hal-hal yang jauh di luar kebiasaan dan sangat berisiko pada masanya. Kebetulan keduanya berbenturan, maka efek heroiknya lebih kental sehingga mereka berdua menjadi pemimpin yang tidak sekadar eventful (menjadi tokoh sesaat), melainkan transformasional (menjadi tokoh penggubah yang layak dicatat sepanjang masa).

Kisah seperti di atas memang menggiurkan. Dunia penuh dengan cerita-cerita kepahlawanan seperti itu. Mulai dari Lenin yang mengangkat senjata dan memimpin Revolusi Bolsheviks di Rusia hingga Nelson Mandela yang berjuang dari penjara di Afrika Selatan. Siapa pun yang pernah merasakan tampuk kepemimpinan pasti punya ambisi untuk menjadi tokoh transformasional: menelurkan gagasan-gagasan inovatif,berani,tampil sebagai tokoh yang mendobrak kebiasaan- kebiasaan lama.

Ada ambisi untuk memiliki power. Satu hal yang tak boleh dilupakan tentang power,yakni bahwa power bersifat relasional. Wujud powertidak bisa dipisahkan dari penerimaan kelompok manusia lain di masa itu.

Dalam konteks hubungan internasional, power (dari pemimpin suatu negara) harus diakui, diterima, dijunjung oleh sesama power lain (yakni milik pemimpin negara lain) karena pada akhirnya tidak ada satu pun power yang lebih berdaulat dibandingkan yang lain; semua negara terlepas dari besaran penduduk atau kekuatan ekonominya adalah sama di mata etika hubungan diplomatik. Terlebih lagi, dalam masyarakat modern saat ini, power adalah produk kolektif kerja organisasi dan bukan semata kewibawaan pribadi.

Di zaman kerajaan atau feodal, pengakuan kepemimpinan seseorang oleh masyarakat dilihat dari trahnya atau garis keturunan. Model semacam itu cocok dan lestari karena ekonominya masih selfsubsistence dan tidak bergantung dengan kerajaan lain. Ketika sistem ekonomi dunia sudah berubah dan saling bergantung, acceptance–nya dinilai tidak hanya di satu negara, tetapi juga di negara tetangga lainnya.

Demikian pula sebaliknya. Pemimpin seperti Hosni Mubarak (mantan Presiden Mesir), Moamar Khadafi (tokoh Libya), Saddam Hussein (mantan Presiden Irak), George W Bush (mantan Presiden AS), atau Soekarno (tokoh revolusi Indonesia) adalah orangorang yang kontroversial pada masanya.Masing-masing mempunyai masa di mana ide-ide mereka berhasil menggalang dukungan dari negara-negara lain.

Ketika negara-negara lain menerima kepemimpinan mereka, penokohan mereka dalam hubungan internasional hidup terus.Ketika mereka dianggap "kelainan" dan bagian dari cacat sejarah,maka mereka dicampakkan dalam catatan kelam sejarah dunia. Artinya pemimpin tak bisa mengandalkan kekuatan pribadinya sendiri dalam mengatasi masalah.Ia hidup mengelola kontradiksi yang ada di bawah kekuasaannya.

Dalam mengelola ia perlu memiliki dan menguasai sumber dari mana power-nya berasal. Powerdapat bersumber dari pengelolaan dan penguasaan sektor-sektor ekonomi, media, militer, atau kekuatan organisasi politik di tengah masyarakat. Pada hubungan internasional, power juga dapat diperoleh dari membangun koalisi atau aliansi seperti Gerakan Non-Blok, ASEAN, Mercosur.

Menumpuk senjata dan menciptakan teknologi militer termaju adalah juga cara yang dapat dipilih untuk membangun power di kawasan, tetapi tidak selamanya itu berlaku ke semua negara. Negara seperti Kosta Rika, Andora, atau Monako tidak memiliki standing army, tetapi bergantung kepada negara lain untuk pertahanannya.

Di sinilah saya selalu terngiang pesan dari William Liddle, guru saya di Ohio State University, bahwa pemimpin tidak hanya perlu punya virtue (kebajikan, keluhuran budi), tetapi juga punya fortuna (peruntungan yang bagus).

Dalam politik,kedua hal ini berbenturan karena seorang pemimpin juga diharapkan pandai menciptakan opportunity yang menguntungkan peruntungan dirinya. Terlepas dari kontroversinya, hal ini kerap dipahami orang sebagai peluang untuk memelintir kesempatan.  DINNA WISNU Direktur Pascasarjana Bidang Diplomasi, Universitas Paramadina

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/519919/ 

Berbagi berita untuk semua

http://goo.gl/KKHti

http://goo.gl/fIWzb

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar